Casing Setting Depth Selection

Pada bab ini kita belajar untuk mementukan dimana casing di-run dan disemen. Yang harus diperhatikan dalam penentuan ini adalah tekanan formasi, fracture gradien, hole problem, dan lain sebagainya.

tipe casing yang digunakan adalah

  • Conductor casing
  • Surface Casing
  • Intermediate Casing
  • Production Casing
  • Liner

Intermediate Casing

Prosedur menentukan kedalaman Intermediate casing adalah sebagai berikut :

  1. Buatlah grafik antara d-eksponen correction dengan kedalaman!Pada masing masing kedalaman (dalam feet), kita mencari d-ekosponennya terlebih dahulu. Ingat satuan untuk R adalah ft/hr, WOB dalam per seribu lbs, dan diameter bit dalam inch.

    d = log(R/(60RPM))/log(12WOB/1000 dbit)

    Kemudian tentukan d correctionnya dengan rumus

    d corr = d (densitas minimal/densitas real)

  2. Buat rumus persamaan d eksponen normalAmati hasil grafik pada a. garis d-correction yang normal adalah miring ke kanan pada grafik d-correction Vs kedalaman. Jadi ketika mulai menyimpang ke kiri maka langsung stop garis normalnya disitu. Lalu buat rumus persamaan untuk d-eksponen normal pada seluruh satuan kedalaman yang tertera di soal. Jadi pada saat ini, masing masing kedalaman memiliki 3 nilai d yaitu d-eksponen (dari data), d-correction (pengolahan pertama), dan d-eksponen normal (pengolahan kedua).
  3. Buat garis garis overlay dari garis d-eksponen normal tersebut pada setiap kenaikan harga 1 EMW (optional)Pada masing masing nilai kedalaman, hitung besar  d overlay untuk berbagai EMW. d overlay dirumuskan :

    EMW = d minimum (d overlay/d-eksponen normal)

  4. Plot harga EMW (dalam ppg) vs depthBerdasarkan langkah 2, kita telah mendapatkan harga  d eksponen normal dan d correction. Dengan Gradien normal sebesar 9 ppg maka kita plot EMW vs depth

    EMW = gradien normal (d-eksp normal/d-correction)

  5. Plot Fracture gradien (dalam ppg) vs depthData fracture gradien biasanya sudah ada pada soal sehingga tinggal plot saja.
  6. Temukan nilai EMW terbesar dan kedalamannya.
  7. Tambahkan nilai EMW terbesar tersebut dengan 0,8. Dapatkan nilai fracture gradien yang sesuai dan catat kedalamannya.
  8. Pada kedalaman tersebut, catat EMWnya.
  9. Hitung nilai differential pipe sticking dengan rumus  :
    P = 0,052 x depth formasi tekanan normal terdalam x (EMW pada langkah 8 ditambah 0,3 – EMW saat depth)
  10. jika P kurang dari 2200 maka tidak terjadi pipe sticking sehingga kedalaman intermediate satu adalah pada kedalaman langkah 7. Jika lebih dari 2200 maka terjadi pipe sticking sehingga dari 2200, kita cari EMW pada langkah 8 ditambah 0,3, yang baru.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: