Susah Jadi Mahasiswa, Jadi Mahasiswa Susah, Mahasiswa Jadi Susah

Siapapun orangnya, kebanyakan dari kita mencari jalan untuk susah. Jalan yang kita lewati setapak demi setapak, waktu yang kita habiskan detik demi detik, Keringat yang kita kucurkan tetes demi tetes, hanyalah upaya menemukan kesulitan.

Buktinya saat SD dulu, kita maunya diterima SMP favorit. Kita berjuang mati matian untuk mendapatkannya. Saat berhasil diterima, bukannya hidup enak tapi kehidupan malah semakin rumit. Pelajaran makin susah dan persaingan semakin ketat demi merebutkan peringkat. Setelah mengenyam pendidikan selama 3 tahun di SMP, tiba saatnya menghadapi UN. Kita mati matian berjuang lulus dan berharap bisa diterima di SMA favorit. Untuk apa? entahlah.

Akhirnya berkat usaha keras dan doa, alhamdulillah, diterima di SMA favorit. Di sini jangan dikira malah enak enakan santai? Justru, standar kelulusan nilai 75 sehingga mengharuskan kita untuk belajar setiap hari. Bagaimana tidak stress?Bahkan sebagian dari kita mungkin sampai sering menangis di ruang kamar.

Tiba saatnya di penghujung SMA, kini pula saatnya perjuangan menghadapi UAN dan berusaha lulus. Tentunya kita banting tulang untuk bisa lulus. Bahkan tidak sekedar lulus tetapi harus bisa masuk PTN ternama.

Alhamdulillah, kita bisa masuk PTN yang diinginkan. Status baru kita sandang, yaitu mahasiswa!

Sayangnya, rasa bangga mulai memudar. Tekanan di kepala semakin tajam menghantam. Materi kuliah, buku bahasa inggris, tugas tugas menjadi momok bagi mahasiswa baru. Belum banyak beradaptasi tapi ujian sudah banyak keluar. Jauh tingkat stressnya dibandingkan SMA.

Yah beginilah mahasiswa, awalnya kita selalu susah menjadi mahasiswa. Masuknya susah, keluar duit banyak, capek hati. Semua kita lakukan hanya untuk bisa duduk di bangku kuliah dan ingin merasakan mengenakan jas almamater.

Selanjutnya jadi mahasiswa susah. Selama prosesnya jika tidak ada kecepatan beradaptasi, maka semua akan dijalani dengan wajah cemberut. Selama menjadi mahasiswa, banyak dari kita pernah mengalami harus menyelesaikan tugas hingga larut malam. Bahkan praktikum sampai dini hari. Belum lagi tuntutan untuk mengikuti organisasi baik di dalam kampus atau di luar kampus.

Tingkat akhir, kita berurusan dengan tugas akhir. Tentu tidak cuman tugas akhir saja, tetapi ada kuliah praktek, ujian kompre, magang, dan lain lain. Akhirnya mahasiswa jadi susah. Akibatnya banyak juga yang lulus tidak tepat waktu.

Bagaimanapun, ada pesan bijak yang penulis sampaikan. Selama masa mahasiswa ini, marilah kita eratkan tangan dan kuatkan mental untuk sama sama menyelami kehidupan sebagai mahasiswa. Semakin tinggi strata sosial kita maka semakin besar beban di pundak kita. Kenapa mengeluh menggendong karung berisikan emas yang banyak? Apakah kita rela menyianyiakan kesempatan menggendong emas yang lebih banyak hanya karena tidak ingin berkeringat? Inilah konsekuensinya. Allah pasti menilai proses dan doa kita.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: