Pertimbangkan sebelum menikah

*awal cerita .ada seorang pemuda brumur 19 thn yg ingin menikah karna takut melanggar. Tp ayahnya kurang setuju kalo dia menikah umur segitu .ini saran dari org lain dlm menanggapi mslhnya.

Menjaga diri agar terhindar dari pelanggaran dengan menikah itu memang baik.
Namun, menjaga pelanggaran tidak harus dengan menikah. Seperti hadits di
bawah ini.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ
فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu berumah
tangga, maka menikahlah. Karena sesungguhnya, menikah itu lebih mampu
menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu
melakukannya, hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu dapat meredakan
hasrat.” (HR Muslim)

Jika Mas Majid memang merasa mampu, memang sebaiknya menikah. Tapi perlu
diingat bahwa ‘kadar mampu’ seseorang itu berbeda-beda. Saya bukan bermaksud
menjelekkan, namun kadar ‘mampu untuk menikah’ pemuda-pemudi zaman sekarang
dengan zaman dahulu cukup berbeda. Saya sendiri mengakui hal ini, karena
saya juga hidup di zaman ini (catatan: umur saya sekarang 29 tahun, dan saya
menikah 2 tahun yang lalu pada usia 27 tahun, istri saat itu 24 tahun).

Orang-orang zaman dahulu banyak yang menikah pada usia muda, dan dengan
kedewasaannya, dapat ‘lulus ujian’ dan langgeng sampai kakek-nenek. Namun,
pada zaman sekarang, terutama yang ada di perkotaan, seringkali kadar
kedewasaan untuk menangani masalah rumah tangga belum mampu ditangani.

Akibatnya apa? Salah satunya adalah mudah terjadinya perceraian. Saya tidak
mengatakan tanpa bukti, karena saya sendiri banyak mendapati pasangan
pemuda-pemudi yang menikah di usia kuliah (18-22) atau bahkan di bawahnya
rentan terjadinya konflik dalam rumah tangga. Dan karena faktor kedewasaan
yang belum begitu terlihat, maka mudah untuk memutuskan bercerai. Berbeda
jika sudah matang, sudah banyak pengalaman kuliah, bekerja, dll.

Sesuai hadits di atas, jika belum mampu menikah (orang tua tidak ridho saya
rasa bisa dikatakan sebagai belum mampu), maka berpuasalah.

Selain itu, dengan belum menikah, ada hal-hal yang cukup sulit didapat jika
sudah menikah. Contohnya? Mondok, mencari ilmu agama. Mondok itu tidak harus
menjadi mubaligh. Dengan mondok dahulu setelah kuliah atau selagi kuliah
(dan sebelum menikah), tentunya akan lebih mematangkan diri. Karena dengan
banyaknya mengkaji ilmu agama, hati akan lebih bisa sabar, lebih bisa faham
agama, lebih legowo, lebih tahu pahala-dosa, dll.

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ
حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ جَنَاحٍ أَبُو سَعْدٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu orang yang faham
agama lebih sulit bagi setan untuk menggodanya daripada seribu orang yang
ahli ibadah (namun tidak faham agama).” (HR Ibnu Majah)

Dengan banyak mengaji, mencari tambahan ilmu agama, kita akan lebih mudah
mengatasi persoalan dalam rumah tangga, sehingga ke depannya akan lebih baik
lagi.

Di atas saya sebutkan mengenai tidak ridhonya orang tua. Sesuai hadits di
bawah ini:

حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ
الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي
سَخَطِ الْوَالِدِ

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ridhonya Alloh beserta
ridhonya orang tua, murkanya Alloh beserta murkanya orang tua.” (HR
Tirmidzi, bisa juga dilihat di K. Adab halaman 20).

Menikah adalah perkara besar. Jika orang tua tidak ridho, akan merembet ke
mana-mana. Memang, pernikahan itu baik, namun jika orang tua tidak ridho,
bisa dilihat akibatnya dari hadits di atas. Bahkan di suatu hadits lain
(haditsnya panjang, sulit saya tuliskan di sini) diceritakan bagaimana Nabi
Ibrohim yang tidak suka dengan istri Nabi Ismail (anaknya) dan menyuruh
menceraikannya, maka Nabi Ismail pun menceraikannya.

Jadi, saran saya, kalau masih bisa menunda menikah karena orang tua belum
ridho, tunggulah ridho kedua orang tua. Saya yakin, insya Alloh jika sudah
tiba saatnya, Alloh akan memudahkan. Atau, kalau memang benar-benar ingin
menikah, lakukanlah sholat istikhoroh. Biarkan Alloh yang bertindak dan
mengatur. Jika menikah itu saat ini memang baik untuk Mas Majid, insya
Alloh, Alloh-lah yang akan mengubah pendirian orang tua. Semua itu mudah
bagi Alloh.

 

from : Arif Indra Nugraha mengutip dari sumber

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: