Seleksi Alam dan Iman

Teori Seleksi Alam dikembangkan oleh Charles Darwin pada tahun 1859 menerbitkan sebuah buku berjudul On the origin of species by means of natural selections. Di dalam bukunya ini dikemukakan tentang teori evolusi bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dan sesama makhluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya.

Contoh seleksi alam misalnya yang terjadi pada ngengat biston betularia. Sebelum terjadinya revolusi industri, ngengat biston betularia putih jumlahnya lebih banyak daripada ngengat biston betularia hitam. Namun setelah terjadinya revolusi industri, jumlah ngengat biston betularia putih lebih sedikit daripada ngengat biston betularia hitam. Ini terjadi karena ketidakmampuan ngengat biston betularia putih untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Pada saat sebelum terjadinya revolusi di Inggris, udara di Inggris masih bebas dari asap industri, sehingga populasi ngengat biston betularia hitam menurun karena tidak dapat beradaptsi dengan lingkungannya. Namun setelah revolusi industri, udara di Inggris menjadi gelap oleh asap dan debu industri, sehingga populasi ngengat biston betularia putih menurun karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan akibatnya mudah ditangkap oleh pemangsanya.

Manusia termasuk makhluk hidup yang bersinggungan dengan lingkungan misal lingkungan alamnya. Manusia juga sebagai makhluk sosial sehingga berinteraksi dengan lingkungan pertemanannya dan kehidupan yang lebih majemuk lagi yang meliputi lingkungan tekanan kerja, lingkungan tekanan beribadah, dan lain sebagainya. Itu semua dibutuhkan adaptasi dalam rangka survive dalam melanjutkan dan menaikkan derajat hidup kita. Inilah yang hakekat seleksi alam bagi manusia.

Ketika manusia diterpa dengan gempa bumi misalnya. Mereka akan berusaha memasang shock breaker pada pondasi bangunan mereka dimana alat ini bekerja melawan gerak arah gempa. Gempa tetap berlangsung dan tidak akan pernah mampu kita hentikan namun dengan beradaptasi diri kita selamat. Begitu pula apabila kita berselisih dengan teman, kita tidak akan pernah menghindar dari saling mengetahui kesalahan masing masing. Misalnya si A orangnya suka suudzon, suka mengomel, dan lain lain. Perbedaan dalam hubungan manusia akan terus berlangsung dan tidak akan pernah kita menghentikan itu namun dengan beradaptasi sosial kita akan menjalin hubungan yang harmonis

Keimanan juga mengalami seleksi.

Dalam Tafsir Qurthubi pada surat Attaghobun ayat 2 dan sesuai dengan bunyi hadits ‘Aisyah dalam Shahih Muslim  no hadist 2662, dijelaskan :

Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan saat menyampaikan hadits ini Rasulullah s.aw sedang berkhutbah di hadapan kami pada sore hari. Nabi s.a.w bersabda: “yuwladu’nnass ‘ata thabaqatin syatta, manusia dilahirkan berdasarkan tingkatannya sendiri-sendiri.” Ada yang lahir mu’min, hidup mu’min dan mati dalam keadaan mu’min. Ada yang lahir kafir, hidup kafir dan mati pun kafir. Ada yang lahir mu’min, hidup mu’min dan mati kafir, serta ada yang lahir kafir, hidup kafir, tapi matinya dalam keadaan mu’min.”

Hadist ini menjelaskan betapa keimanan juga mengalami proses seleksi selama hidupnya. Bahkan bisa dikatakan berlakunya hukum Rimba, “Yang kuat akan tetap hidup dan yang lemah akan mati”. Subjek yang hidup atau matinya disini adalah keimanan. Kuat dan Lemah disini juga dalam hal konsistensi dan peningkatan ibadah serta kemampuan menghindar dari pelanggaran agama. Tentu kita akan berpikir bahwa ibadah dan pelanggaran itu jenisnya banyak dan satu orang dikawal oleh sebuah paket ibadah dan pelanggaran. Masing masing paket ini dikirim ke masing masing orang di bumi ini. Sehingga ada orang yang diberikan kefadholan berupa tampan digoda oleh banyak wanita, diberi kemampuan jiwa sosial mampu berdiskusi dengan orang dalam menetapi amar ma’ruf nahi munkar. Godaannya adalah wanita dan ibadahnya adalah amar maruf. Ini adalah contoh dari salah satu paket tersebut sehingga bisa dikenal selain seseorang memiliki amalan andalan, tentu punya dosa andalan.

Lahir Iman, Hidup Iman, Mati Iman : Ini sepol polnya orang hidup. Lahir dalam kondisi orang tua iman, hidup dalam kehidupan iman, dan mati dalam keadaan disaksikan iman. Derajat hidupnya kelak berada pada derajat paling tinggi di Surga nanti. Dalam ibadahnya selalu fastabikhul khoirot dan dalam dosa andalannya mampu di-spam melawan segala hawa nafsunya untuk terus keimanannya bertahan hidup.

Lahir kafir, Hidup kafir, mati kafir : Na’udzubillahimindzalik! Orang ini tidak dikehendaki oleh Allah untuk menetapi kebenaran islam. Allah memiliki ilmu lain dalam menyikapi orang orang ini. Betapa besarnya godaan yang diberikan kepada dirinya dalam paketnya itu. Golongan ini adalah penghuni dasar neraka yang paling dalam bersama orang orang munafik.

Lahir Iman, Hidup Iman, Mati kafir : Sebodoh bodohnya orang adalah golongan ini sebab dirinya jatuh di medan perang dan menjadi korban seleksi iman. Oleh karena itu kita perbanyaklah membaca doa agar kita diberikan penjagaan hati dari bolak baliknya hati, Yamuqollibalkqulub tsabbitqolbi ‘aladinik. Ingatlah bahwa life is goes on and the selection is still coming.

Lahir Kafir, Hidup Kafir, Mati Iman : Ini adalah golongan yang kebetulan beruntung. Dalam ceritanya di hadist sunan bukhori dijelaskan Dari Abi Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW berabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. Wanita itu dimana setelah di akherot nanti? Wanita itu berhak masuk surga jika diqodar mati setelah memberi minum kepada anjing itu sebab dosanya sudah diampuni. Jadi tidak pantaslah diri kita mengatakan kafir kepada seseorang yang sedang hidup.

Dalam hadist di atas tidak ada “lahir Iman, hidup kafir, mati iman”! Inilah yang menjadi persoalan seseorang yang beranggapan akan mengepolkan ibadah jika sudah berusia tua dan menunda nunda untuk tobat kepada Allah. Hakikinya jika hidayah tidak seperti uang yang bila hilang dicuri kita mampu mendapatkannya dengan cara apapun. Namun hidayah tidak bisa. Sebab hidayah berhubungan dengan kesadaran hati bahwa dirinya percaya bahwa Allah itu sedang create a selection, sadar bahwa setiap tingkah lakunya ada malaikat dan syetan yang mengawasi. Jadi jangan berani macam macam dengan hidayah dalam menetapi keimanan!

Dalam grafik tentang seleksi alam ini termasuk seleksi keimanan, kita dapat melihat penyebaran orang orang yang mampu menetapi keimanan, mengepolkan ibadah dan sukses terhindar dari pelanggaran (warna hitam). Ini lah alasan matematis mengapa banyak bidadari surga milik orang di neraka menjadi hak milik penghuni surga. Berat di dunia namun nikmat tak terbatas.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: