SAYA NIAT KARENA ALLAH (ah yang bneeer?)

Segala kegiatan yang dilaksanakan orang iman akan mendatangkan pahala selama kegiatan tersebut diniati karena Allah. Saya keluar untuk sarapan pun bisa menjadi suatu ibadah jika saya niat sarapan untuk keperluan pengajian saya di pagi hari. Saya belajar untuk ujian bisa menjadi ibadah jika saya punya niat belajar agar bisa menjadi seseorang yang handal dalam bidang saya dan bisa menjadi tenaga ahli di suatu perusaahaan dan bergaji puluhan juta. Saya kaya, saya kontribusikan untuk perkembangan islam.

Berdasarkan dalil , niat karena Allah itu adalah “yajurna rohmatahu wayakhofuna Adzaba” artinya mengharapkan surga Allah dan terhindar dari siksa Allah.

Kegiatan kita itu hasilnya ada tiga berdasarkan pandangan agama yaitu, Mendapatkan Pahala, Mendapatkan Dosa, dan Hasil Hampa. Mendapatkan Pahala seperti yang saya sebutkan diatas apabila ibadah dilakukan semata mata karena Allah. Nah repotnya itu kalau kita berhubungan dengan kegiatan yang mendapatkan dosa. Wajar bagi kita jika mencuri itu menghasilkan ganjaran dosa bagi kita. Tapi masalahnya adalah kegiatan ibadah pun ternyata BERPOTENSI untuk mendapatkan dosa. Simaklah percakapan Allah dengan seorang hamba dari hadist bukhori yang penulis dapatkan dari kutipannya di Nuansa edisi agustus 2006:

percakapan berikut antara Alloh dengan hambaNya, kelak berlangsung di hari kiamat: “Wahai Fulan, ada apa denganmu? Pada saat manusia lain datang kepadaKu dengan penuh ketakutan, kamu justru datang kepadaKu dengan muka berseri-seri?” “Ya Robb, hamba datang kepadaMu dengan penuh sukacita, sebab dulu sewaktu hamba hidup di dunia, hamba adalah ahli perang. Kemanapun Rosul berperang menegakkan agamaMu, disanalah hamba berada. Dan bukankah Paduka tahu bahwa hamba mati dibunuh musuh? Bukankah hamba seorang syuhada yang layak ditempatkan di sorga Firdaus tempatnya para Nabi?. Maka itulah, hamba datang kepadaMu dengan muka berseri-seri”. Rosul dan seluruh pasukan balatentara menyaksikan, Fulan memang mati dalam peperangan: syahid. Manakala ditemukan, mayatnya pun langsung dikubur lengkap dengan pakaian yang masih menempel di badan, tanpa perlu dimandikan lagi. Malaikat Roqib pun di buku amalan baiknya mencatat, Fulan memang benar-benar mati dibunuh musuh. Syuhada. Namun apa yang kemudian ternyata terjadi? “Kadzabta! Dusta kamu wahai Fulan! Dulu kamu pergi berperang dan mati dibunuh musuh, bukan karena mencari wajahKu, kamu pergi berperang tidak Karena Alloh, melainkan ‘liyuqoola fulaanun jarii-un’ karena kamu ingin disebut ‘Fulan sang pemberani’ …” “Wahai Malaikat! Buang orang ini ke neraka!”. Maka Fulan pun, yang dahulu didalam sejarah dunia tercatat sebagai ‘syuhada’, pahlawan anumerta yang gugur di medan perang, tetapi yang ternyata matinya dalam keadaan tidak Karena Alloh, digusur oleh Malaikat pada kakinya, dan dengan kepala di bawah menggerus tanah dilemparkan ke neraka Jahannam …

Janganlah kita meremehkan Allah! Dia mengetahui apa dalam hati kita. Ucapan boleh NIAT KARENA ALLAH tapi sebenanya tidak ada sinkronisme antara ucapan niat dengah hati dan lagi sebenarnya untuk apa kita berkata seperti itu?

Sebenarnya kita juga tidak boleh stress duluan dengan masalah niat ini. Karena “addinuyusron”, agama itu mudah. Jangan sampai karena masalah niat, kita menjadi terbatasi untuk masalah ibadah. Jadi ogah untuk melaksanakan ibadah sunah karena takut niatnya ingin di bilang ahli sholat sunnah oleh orang sekitar. Males puasa karena takut dibilang ahli puasa oleh orang lain yang intinya arugemn itu kita sendiri yang buat. Ini sama saja halnya dengan najis. Orang begitu stress mencuci uang karena takut najis. Orang jadi susah sehingga harus berkali kali mandi karena merasa cipratan najis dimana mana. Padahal itu adalah arugemnnya sendiri. Jangan sampai prinsip FASTABIQUL KHOIROT terbatasi karena kita sibuk suudzon masalah niat ibadah diri sendiri.

Proses niat karena Allah itu memilik tahap sebagai berikut :

1. “Ini saya lakukan untuk perjuangan agama Allah”

2. membaca doa “allahumma inni as aluka ridhokawaljannah wana’udzubika minsakhotika wannar”

3. Cek kondisi akhir

Untuk poin ketiga ini, ini mudah untuk dibuktikan apakah ibadah kita barusan diniati karena Allah atau tidak.

Saya punya keinginan untuk  adzan. Saya sudah meminum air secukupnya dan bergegas untuk adzan. Tiba tiba sudah ada orang yang adzan. Saya kecewa karena keinginan saya tak terpenuhi.

Saya punya keinginan untuk mendapat nilai A kuliah statistika. Saya belajar keras hingga larut malam namun ternyata saya begitu kecewa ketika melihat nilai saya mendapat C

Saya punya keinginan untuk mendapatkan nilai C untuk kuliah Kimia dasar. Saya asal asalan belajar. Namun ternyata hasilnya saya mendapatkan nilai A. Saya biasa biasa saja. Tidak terlalu bergembira amat. Ini karena UKHRO.

nah, ini sama hanya dengan niat karena Allah. lihat saja akhirnya! Kalo kita bilang niat karena Allah kemudian ternyata di DIA tidak hadir dalam pengajian dan menjadi tidak bersemangat begitu tahu DIA pindah. Sebaiknya anda yakini bahwa ibadah kemarin itu BUKAN niat karena Allah. Kalau anda niat karena Allah, yang terjadi adalah ada atau tidak DIA tidak masalah. Saya tidak kecewa kalau DIA tidak ada. Saya sedikit bangga ketika dia ada. INI ADALAH UKHRO.

yup, kita ini masih mudah. 3/3 godaan masih besar, especially masalah niat tentang lawan jenis ini. WASPADALAH! WASPADALAH!

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: