Es Serut Alpukat Susu

Mungkin nama es ini sederhana, “Es Alpukat”, tapi kali ini saya benar benar menikmati Es ini. Es ini saya makan disaat yang sangat tepat. Bandung kini seperti jakarta, jakarta ketika saya SMA dulu. Hilang sudah citra Bandung sebagai tempat sejuk. Tak perlu mengira ngira penyebab ini semua, saya menyaksikan itu di depan kedai ES saya. Rombongan Mobil ber-plat B itu benar benar menghajar gerbang tol pasteur. kepulan asap mulai dari sedan hingga truk menjulang tinggi  seperti gas arang. Inilah realita efek rumah kaca penyebab derajat suhu bumi yang semakin meningkat.

Terik matahari bisa saya lawan dengan segarnya “Es Alpukat” ini. Saya sangat terhanyut didalam sensasi susu dan mint segar dinginnya. Rasanya tak cukup jika saya hanya menerimanya dengan nama “Es Alpukat”. Begitu sederhana bagi saya. Saya menamainya ES SERUT ALPUKAT SUSU. mendengarnya saja saya sudah membayangkan betapa segarnya ES ini. Begitu hebat fantasi saya terhadap es ini. Dunia yang panas dan kering ini ternyata masih ada kenikmatan.

Beda ruang, beda pula keadaan. Orang orang pengendara motor di samping kedai saya ini terlihat begitu payah. kepulan asap dan keringat benar benar membuat wajah mereka lepek. terik matahari mengerutkan dahi mereka. Terkadang terdengar sayup suara kasar terlontar di antara mereka. Maklum, dunia ini sudah mulai tak bersahabat. Bagaimanapun, mereka ingin cepat sampai dan mungkin berbaring dan tertidur.

Kesibukan memang dijalani demi hidup kita. Kesibukan dijalani untuk dua hal yaitu mendapat kenikmatan atau terhindar dari bahaya. Seorang pengendara motor itu berjalan pasti menuju ke arah suatu lokasi dimana lokasi itu bisa memberinya kenikmatan atau lokasi itu dapat memberinya jaminan terhindar dari suatu bahaya. Kita begitu fokus dengan tujuan kita sampai lupa tubuh punya hak.

Hak atas tubuh seharusnya berjalan paralel di samping kesibukan kita. Mereka bisa keluar kapan saja ketika kita jenuh dan penat. Kebanyakan orang merasa sia sia merelakan waktunya untuk berhenti di pinggir jalan dan beristirahat. Padahal ini adalah cara bagaimana kita menikmati pekerjaan kita. Tidak harus berhenti di pinggir jalan, begitu banyak cara kita memanjakan diri kita.

By : Pappareta

by : pappareta

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: