Jalan di dekat kuburan

Ada beberapa rute yang bisa saya pilih untuk berangkat ke sekolah saya dulu. Namun dari sekian pilihan jalan itu, saya memiliki jalan favorit yakni jalan yang melewati areal kuburan. Bukannya apa apa, yang saya rasakan saat melewati kuburan ini adalah KEMATIAN. Kalau begitu, setiap manusia, apapun itu status sosialnya, pekerjaannya, kita semua pada akhirnya akan pada satu jurusan, yaitu MATI. punya apartemen dimana mana, punya mobil mewah mewah, punya istri cantik cantik ujung ujungnya sama dengan tukang gorengan, sama sama satu jurusan ke liang lahat. Namun, kenapa kuburan ini, yang jurusannya begitu pasti, begitu dekat, dan begitu sering dilewati supir supir itu terasa begitu jauh? Para pengendara di jalan samping kuburan itu juga masih kebut kebutan seperti biasa. bus bus omprengan masih saja sesuka hati . Sering begitu cepat memburu jam namun sering begitu lambat jika sedang nge-time. Jalan yang tidak begitu lebar itu masih saja digagahinya sendiri, sama sekali nggak peduli antrean yang semakin memanjang.

kesimpulannya, bus ini begitu ugal ugalan nan berbahaya ketika terburu buru namun begitu menyusahkan orang dengan membuat macet ketika sedang sabar sabarnya menunggu. Jadi, hidup bus ini menghabiskan hidupnya dalam dua persoalan yaitu SABAR SEKALI atau NGEBUT SEKALI. keduanya adalah tindakan yang mengundang kejelngkelan sesama. menurut hitungan kasar, jika supir bus itu mati tiba tiba, pasti dia dihitung mati dalam jahiliyah karena bagi saya dia begitu menyulitkan banyak orang. Tentu bukan mati yang diharapkan.

Iya sih, saya juga memahami watak supir bus ini. wataknya itu pasti juga dipengaruhi watak majikannya yang memberikan stressing untuk menarik setoran tinggi. kasihan, mereka hanya mendapat upah yang tak sebanding dengan hasil jerihnya. Mereka berusaha mandapatkan uang jauh melebihi setoran. maka, di jalanan supir supir itu hanya terpaku kepada setorannya ketimbang rambu rambu lalulintas. Mereka pun menyadari hal ini. mereka sadar bahwa nge-time terlalu lama itu tidak baik. Maka saya pun merasakan kepekaan mereka terhadap penumpang . Saya membaca itu di pintu masuk bus. ” Anda butuh waktu, Kami butuh uang”.

Saya juga memahami mengapa majikan meminta setoran yang sangat tinggi. modalnya tidaklah sedikit. modal harus balik dalam kurun waktu tertentu. pendapatannya ingin cepat cepat disebut sebut sebagai pendapatan keuntungan. tak ingin lama lama mereka balik modal.

Jalan raya hanyalah miniatur sikap kita saling bertukar kekejaman. Seperti halnya kegiatan Ospek yang dinanti nanti oleh para senior. SAMA SEKALI TIDAK MENDIDIK OSPEK/PERPELONCOAN ITU. lebih baik ganti dengan kegiatan yang jauh bermanfaat dan merangsang keakraban se angkatan, antar angkatan dan akrab dengan lingkungan.

Sandal kita digasak di masjid, kita pun balas dengan menggasak sandal orang lain. masih begitu. banyak hal yang tidak kita sadari bahwa hidup kita telah sama jahatnya dengan orang yang kita anggap jahat.

Sakit hati dengan rekan kerja tapi malah dibalas dengan menghambat kinerja tim. kalau emang bagus usulannya, kenapa masih saja ditentang?

Jika hidup akhirnya ujung ujungnya ke kuburan, kenapa sih orang banyak sibuk dengan urusannya masing masing. Bukannya berbesar hati dengan melihat tujuan baik tapi malah sibuk menukar kekejaman

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: