minyak di bawah sana itu…
13 Desember 2009

Sebagian besar orang mungkin berpikir bahwa minyak mentah yang berhasil diproduksi itu berasal dari kolam minyak yang berada di bawah tanah sana. benarkah demikian?

formasi batuan petroleum sistem

Tidak demikian bahwa terbentuk kolam minyak dibawah sana. minyak itu sebenarnya berada pada pori pori batuan yang memiliki tingkat porositas dan permeabilitas yang besar. porositas adalah kemampuan batuan untuk menjebak minyak sedangkan permeabilitas adalah kemampuan pori batuan untuk mengalirkan minyak. batuan yang mengandung minyak ini dinamakan reservoir. nah, reservoir ini pasti berada di antara batuan sumber minyak (source rock) dan batuan penutup (cap rock). nah yang sering kita dengar bahwa minyak berasal dari hewan hewan purba zaman dulu itu terjadi proses bio kimiawi di source rock. seiring berjalannya waktu maka minyak yang ada pada source rock tersebut pindah ke batuan yang diatasnya hingga bertemu batuan yang dinamakan reservoir tadi. berhubung diatas reservoir ada cap rock, maka minyak tertahan di reservoir.

pertanyaan mungkin muncul mengapa minyak dari source rock itu ke atas bukan ke bawah. bukankah gerak ini melawan gaya gravitasi ? hal ini disebabkan oleh jenuhnya hidrokarbon yang ada pada source rock tersebut. jadi source rock yang mengandung hidrokarbon itu perlu proses pematangan. sama halnya dengan kita memasak telur. kita butuh suhu lebih tinggi untuk  mematangkan telur. hal ini juga dialami hidrokarbon di source rock. suhu yang berada di source rock lebih besar dibandingkan suhu di permukaan tanah. masih ingat dengan panas bumi? hubungan antara kedalaman bumi dengan perubahan suhu bergantung pada lokasi. pada umumnya, kedalaman 100 m di bawah tanah itu sudah mampu meningkatan suhu 2 hingga 4 derajat celcius. sedangkan pada daerah produksi geotermal chevron di riau itu mampu menigkatkan suhu sebesar 6-8 derajat celcius setiap kedalaman 100 m.

saat hidrokarbon disource rock mengalami pematangan, maka hidrokarbon tersebut akan tetap didalam source rock hingga mengalami keadaan jenuh/luber. hidrokarbon matang terus diproduksi maka wajar bila terjadi “pengluberan”. migrasi Hidrokarbon ke reservoir ini lah yang akhirnya menyebabkan reservoir mengandung minyak. porositas source rock jauh lebih kecil dengan porositas reservoir. sehingga tak akan pernah ditemukan reservoir mengalami penjenuhan sehingga minyak mampu lolos melewati cap rock. reservoir jauh lebih banyak menyimpan minyak.

pada proses migrasi hidrokarbon dari sourcerock ke reservoir, terjadi dua kali migrasi. migrasi pertama yaitu migrasi hidrokarbon secara langsung dari source ke reservoir. selanjutnya migrasi yang kedua yaitu migrasi dari reservoir yang paling dalam (reservoir yang berhubungan langsung dengan source rock) ke reservoir yang paling dangkal (berhubungan langsung dengan seal).

syarat migrasi hidrokarbon ini adalah adanya reservoir diatas source rock. namun, dalam industri perminyakan, tentu kita menginginkan hidrokarbon yang berupa gas dan minyak tersebut diperangkap oleh seal. nah, tidak semua tempat yang ada sourcerock dan reservoir diatasnya diperangkap oleh seal. oleh karena itu, hidrokarbon yang terperangkap juga terjadi karena adanya waktu yang pas dimana migrasi terjadi sesudah terbentuknya seal.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.443 pengikut lainnya.