Arsip untuk ‘Petroleum’ Kategori

Tugas Arlif 1 : Separator
7 Februari 2011

Latar belakang penggunaan separator

Selama dilakukan proses produksi, hidrokarbon bisa terdiri dari campuran minyak dan air. Hal ini disebabkan reservoir yang kita bor merupakan batuan berpori yang mengandung fluida tidak hanya berupa minyak saja namun mengandung air. Air ini sudah ada sejak terjadinya migrasi minyak dari batuan sumber. Air yang jumlahnya dinyatakan dalam saturasi water connate ini tinggal bersama sama minyak. Sehingga setiap kita memproduksi zona atau kedalaman bor yang mengandung minyak kita pasti akan mendapatkan air. (lebih…)

Henderson Petrophysic
6 Februari 2011

Ada link yang cukup oke buat perhitungan karakter batuan secara cepat. Henderson telah menemukannya dalam bentuk program excel. Ini linknya

http://www.hendersonpetrophysics.com/Downloads.html#Home

Analisis sistem produksi
26 Januari 2011

Suatu sumur produksi diproduksi dan dikomplesi untuk mengalirkan minyak atau gas dari posisi aslinya di reservoir menuju stock tank. Pergerakan dari fluida ini membutuhkan energi untuk mengatasi adanya friction loss di dalam sistem dan untuk pengangkatan hidrokarbon ke permukaan. Fluida harus melalui resrvoir dan piping system kemudian mengalir ke separator untuk pemisahan gas dan liquid. Sistem produksi terdiri dari beberapa komponen dimana hubungan antara sub-system terjadi pressure loss. (lebih…)

Pembuatan kolom stratigrafi berdasarkan data cutting
1 Oktober 2010

Dalam industri migas, pekerjaan seorang well-site geologist merupakan pekerjaan yang penting sebab ketelitian data yang ada sangat menentukan dalam operasi operasi selanjutnya. Misalnya dalam menentukan adanya batuan reservoir, menentukan zona zona produksi, mengamati adanya oil shows, mengantisipasi adanya overpressure, dan lain lain. Salah satu tugas dari geolog tersebut adalah mengamati, mendeskripsi, dan menafsirkan jenis batuan yang ditembus oleh bor.

Pada pembuatan kolom ini lebih menekankan metoda log gamma ray karena log Gamma ray lebih banyak dipakai dilapangan. Satuan nilai gamma ray adalah API. Rangenya tergantung dari setelan loggingnya. Ada yang dari 0 s/d 100, ada juga yang dari 0 – 150 API. Semakin tinggi nilainya maka akan semakin banyak mengandung unsur radioktif yang lebih banyak ditemukan dalam formasi shale. Sedangkan pada batuan reservoir, nilai Log Gamma ray kecil. Namun kondisi tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Kita perlu mengkolaborasikan dengan data log yang lain. Bagaimana resistivitasnya? dan lain lain. Karena bisa saja dalam formasi reservoir yang dalam hal ini adalah batuan sand memiliki kandungan pottasium, dan jenis jenis unsur yang radioaktif.

Dalam pembuatan kolom stratigrafi ini, kita juga akan menggunakan Cutting log. Jadi pada saat melakukan pengeboran, kita mensirkulasikan mud drilling sehingga dalam setiap kedalaman tertentu, kita menganalisa cutting yang terangkat tersebut. Hasil dari cutting lo adalah kita bisa tahu berapa persentase dari Sand dan shale. Pada kenyataannya dilapangan, tidaklah sepenuhnya formasi terdiri dari sand dan shale saja namun juga batuan lain. Tapi dalam pengukuran ini, batuan tersebut tidak terhitung ke dalam kandungan total.

Kita juga perlu log ROP (rate of penetration). ROP ini menggambarkan kecepatan pengeboran menembus lapisan batuan. Jika ROP bermain di satuan feet/minute maka kita juga perlu tahu istilah drilling rate. Bedanya adalah kalo drilling rate, satuannya adalah persekon karena didefinisikan berapa waktu yang dibutuhkan oleh untuk mengebor satu feet sumur. Semakin besar nilai ROP ataupun drilling rate maka lapisan tersebut akan semakin shaly. Sedangkan pada batu sand, akan lebih kecil artinya mengebor di daerah sand lebih cepat.

minyak di bawah sana itu…
13 Desember 2009

Sebagian besar orang mungkin berpikir bahwa minyak mentah yang berhasil diproduksi itu berasal dari kolam minyak yang berada di bawah tanah sana. benarkah demikian?

formasi batuan petroleum sistem

Tidak demikian bahwa terbentuk kolam minyak dibawah sana. minyak itu sebenarnya berada pada pori pori batuan yang memiliki tingkat porositas dan permeabilitas yang besar. porositas adalah kemampuan batuan untuk menjebak minyak sedangkan permeabilitas adalah kemampuan pori batuan untuk mengalirkan minyak. batuan yang mengandung minyak ini dinamakan reservoir. nah, reservoir ini pasti berada di antara batuan sumber minyak (source rock) dan batuan penutup (cap rock). nah yang sering kita dengar bahwa minyak berasal dari hewan hewan purba zaman dulu itu terjadi proses bio kimiawi di source rock. seiring berjalannya waktu maka minyak yang ada pada source rock tersebut pindah ke batuan yang diatasnya hingga bertemu batuan yang dinamakan reservoir tadi. berhubung diatas reservoir ada cap rock, maka minyak tertahan di reservoir.

pertanyaan mungkin muncul mengapa minyak dari source rock itu ke atas bukan ke bawah. bukankah gerak ini melawan gaya gravitasi ? hal ini disebabkan oleh jenuhnya hidrokarbon yang ada pada source rock tersebut. jadi source rock yang mengandung hidrokarbon itu perlu proses pematangan. sama halnya dengan kita memasak telur. kita butuh suhu lebih tinggi untuk  mematangkan telur. hal ini juga dialami hidrokarbon di source rock. suhu yang berada di source rock lebih besar dibandingkan suhu di permukaan tanah. masih ingat dengan panas bumi? hubungan antara kedalaman bumi dengan perubahan suhu bergantung pada lokasi. pada umumnya, kedalaman 100 m di bawah tanah itu sudah mampu meningkatan suhu 2 hingga 4 derajat celcius. sedangkan pada daerah produksi geotermal chevron di riau itu mampu menigkatkan suhu sebesar 6-8 derajat celcius setiap kedalaman 100 m.

saat hidrokarbon disource rock mengalami pematangan, maka hidrokarbon tersebut akan tetap didalam source rock hingga mengalami keadaan jenuh/luber. hidrokarbon matang terus diproduksi maka wajar bila terjadi “pengluberan”. migrasi Hidrokarbon ke reservoir ini lah yang akhirnya menyebabkan reservoir mengandung minyak. porositas source rock jauh lebih kecil dengan porositas reservoir. sehingga tak akan pernah ditemukan reservoir mengalami penjenuhan sehingga minyak mampu lolos melewati cap rock. reservoir jauh lebih banyak menyimpan minyak.

pada proses migrasi hidrokarbon dari sourcerock ke reservoir, terjadi dua kali migrasi. migrasi pertama yaitu migrasi hidrokarbon secara langsung dari source ke reservoir. selanjutnya migrasi yang kedua yaitu migrasi dari reservoir yang paling dalam (reservoir yang berhubungan langsung dengan source rock) ke reservoir yang paling dangkal (berhubungan langsung dengan seal).

syarat migrasi hidrokarbon ini adalah adanya reservoir diatas source rock. namun, dalam industri perminyakan, tentu kita menginginkan hidrokarbon yang berupa gas dan minyak tersebut diperangkap oleh seal. nah, tidak semua tempat yang ada sourcerock dan reservoir diatasnya diperangkap oleh seal. oleh karena itu, hidrokarbon yang terperangkap juga terjadi karena adanya waktu yang pas dimana migrasi terjadi sesudah terbentuknya seal.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.443 pengikut lainnya.